Bekal Seumur Hidup: Mengapa Rasa Percaya Diri adalah Hadiah Terbesar dari Orang Tua?


Oleh : Aulia Sukendar

Kepala Sekolah TKIT Maharani Putri

Halo Ayah dan Bunda hebat! Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga hari ini penuh dengan tawa si kecil ya, meskipun mungkin ada drama sedikit karena kaos kaki yang tertukar atau sayur yang tidak mau dimakan. Namanya juga dinamika mendampingi "si bos kecil", ya kan?

Sebagai guru di sekolah, saya sering sekali memperhatikan anak-anak saat mereka pertama kali masuk kelas. Ada yang langsung lari mengejar bola, ada yang masih sembunyi di balik kaki Bundanya, dan ada juga yang ragu-ragu hanya untuk sekadar memegang krayon. Dari sana saya belajar satu hal penting: setiap anak membawa "tas ransel" yang berbeda dari rumah. Isinya bukan cuma buku atau bekal makan siang, tapi sesuatu yang tak terlihat namun sangat terasa: rasa percaya diri.

Seringkali kita sebagai orang tua berpikir bahwa hadiah terbaik untuk anak adalah fasilitas pendidikan terbaik, mainan edukasi yang mahal, atau tabungan masa depan yang menjulang. Tentu itu semua baik. Tapi, tahukah Bunda? Ada satu hadiah yang tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa habis dimakan waktu, dan akan terus mereka bawa sampai mereka dewasa nanti. Hadiah itu adalah keyakinan bahwa diri mereka berharga dan mampu.

Mengapa Harus Rasa Percaya Diri?

Bayangkan rasa percaya diri itu seperti akar sebuah pohon. Pohonnya adalah masa depan anak kita. Jika akarnya kuat, sekeras apa pun angin badai menerpa saat mereka dewasa nanti, pohon itu tidak akan mudah tumbang. Mereka mungkin akan bergoyang, daunnya mungkin rontok, tapi mereka tetap tegak berdiri.

Anak yang percaya diri bukan berarti anak yang tidak pernah takut. Justru, mereka adalah anak yang berani melangkah meskipun merasa takut. Mereka tahu kalau mereka jatuh, mereka punya kekuatan untuk bangun lagi. Dan kekuatan itu, Ayah Bunda, asalnya dari rumah. Dari bagaimana kita menatap mereka saat mereka gagal, dan bagaimana kita memuji saat mereka mencoba.

Percaya Diri Bukan Berarti "Paling Pintar"

Kadang kita salah paham. Kita pikir anak yang percaya diri adalah anak yang selalu jadi juara kelas atau yang paling jago menyanyi di panggung. Padahal tidak selalu begitu.

Di mata kami sebagai guru PAUD, percaya diri itu sesederhana ketika si kecil berani bilang, "Aku mau coba pakai sepatu sendiri ya, Bun," atau ketika dia berani menyapa temannya duluan. Itu adalah kemenangan besar! Kita tidak sedang mencetak anak yang sombong, tapi kita sedang membangun fondasi agar mereka merasa nyaman menjadi diri mereka sendiri.

Bagaimana Cara Kita "Membungkus" Hadiah Ini?

Lalu, gimana sih caranya memberikan hadiah rasa percaya diri ini tanpa terkesan menuntut? Yuk, kita bedah pelan-pelan.

1. Hargai Proses, Bukan Hanya Hasil

Seringkali kita hanya bertepuk tangan saat anak mendapat nilai 100 atau berhasil menggambar bunga yang bagus. Coba deh, sesekali kita puji usahanya. "Wah, Bunda lihat tadi kamu sabar banget ya menyusun balok-balok ini sampai tinggi, meskipun tadi sempat roboh." Dengan begitu, anak belajar bahwa yang penting adalah "berjuang", bukan cuma "menang".

2. Berikan Kepercayaan untuk Hal-Hal Kecil

Saya tahu, kadang kita gemas melihat si kecil makan berantakan. Rasanya ingin langsung menyuapi supaya cepat dan bersih. Tapi, membiarkan mereka memegang sendok sendiri—meski nasi bertebaran di lantai—adalah cara kita bilang: "Bunda percaya kamu bisa." Kepercayaan kecil dari kita adalah bahan bakar besar bagi harga diri mereka.

3. Jadilah "Cermin" yang Positif

Anak-anak melihat diri mereka melalui mata kita. Kalau kita selalu fokus pada kekurangannya, mereka akan merasa dirinya adalah "kumpulan kekurangan". Tapi kalau kita fokus pada kelebihannya, mereka akan merasa berharga. Ubah kalimat "Kenapa sih tumpah terus?" menjadi "Yuk, kita ambil lap, kita bersihkan sama-sama. Nanti coba lagi pelan-pelan ya." Bedanya sedikit di kata-kata, tapi dampaknya beda jauh di hati anak.

4. Biarkan Mereka Membuat Keputusan

Di sekolah, saya sering bertanya, "Hari ini mau pakai krayon warna biru atau merah?" Memberi pilihan membuat anak merasa pendapatnya penting. Di rumah pun begitu. Biarkan mereka memilih baju yang mau dipakai (meski kadang warnanya tidak nyambung, hehe). Ini melatih mereka untuk berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab.

Tantangan Terbesar: Menahan Diri untuk Tidak Selalu "Menyelamatkan"

Ini nih yang paling sulit bagi kita sebagai orang tua. Kita tidak tega melihat anak kesulitan. Saat mereka kesulitan memasang kancing baju, tangan kita rasanya gatal ingin membantu. Tapi Ayah Bunda, setiap kali kita mengambil alih tugas yang sebenarnya bisa mereka lakukan, kita secara tidak sengaja sedang bilang: "Kamu belum mampu, biar Ayah saja."

Sesekali, biarkan mereka berjuang. Temani saja di sampingnya. Berikan semangat lewat kata-kata, bukan tangan. Keberhasilan mereka saat berhasil mengancingkan satu lubang baju itu rasanya seperti memenangkan piala dunia bagi mereka!

Hadiah yang Terus Memberi

Apa yang terjadi saat anak tumbuh dengan hadiah "rasa percaya diri" ini?

 * Di SD: Mereka berani bertanya saat tidak mengerti pelajaran.

 * Di SMP/SMA: Mereka punya prinsip kuat dan tidak mudah ikut-ikutan pergaulan yang salah hanya demi diterima teman.

 * Di dunia kerja: Mereka berani mengambil tantangan dan inovatif.

 * Di kehidupan berkeluarga: Mereka akan menjadi pribadi yang penuh kasih karena mereka sudah merasa "cukup" dengan dirinya sendiri.

Jadi, Ayah dan Bunda, jangan berkecil hati kalau hari ini belum bisa memberikan mainan paling mahal atau kursus paling bergengsi. Selama Ayah dan Bunda masih memberikan pelukan hangat saat mereka gagal, memberikan senyuman bangga saat mereka mencoba, dan memberikan telinga untuk mendengar cerita mereka, Ayah dan Bunda sudah memberikan hadiah termewah di dunia.

Di kelas, saya selalu bilang ke anak-anak, "Setiap kalian adalah bintang, dan bintang punya waktunya masing-masing untuk bersinar."

Tugas kita sebagai orang dewasa di sekitar mereka hanyalah menjaga agar "langit" mereka tetap luas dan cerah. Jangan tutupi langit mereka dengan keraguan kita. Percayalah pada mereka, maka mereka akan belajar cara mempercayai diri mereka sendiri.

Terima kasih ya Ayah dan Bunda sudah berjuang luar biasa setiap hari. Menjadi orang tua itu melelahkan, tapi melihat binar percaya diri di mata si kecil? Rasanya semua lelah itu terbayar lunas.

Semangat terus ya, para pahlawan di rumah!