Terlambat Bukan Berarti Tidak Sampai

 


Oleh: Neng Eva Qomariah, S.Pd

Guru SMP IT Raudhatul Muttaqin

Berangkat dari sebuah keinginan besar untuk menjadi seorang guru, rasanya saya ingin memutar waktu. Jika bisa kembali ke masa lalu, saya ingin memperbaiki lembaran hidup saat saya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Waktu itu, jujur, saya belum memiliki gambaran mendalam tentang masa depan; mau jadi apa saya nanti?

Ketika dihadapkan pada pilihan orang tua antara masuk pesantren atau sekolah umum, saya memilih pesantren. Lingkungan keluarga besar saya rata-rata memang lulusan pesantren. Lagipula, saat itu masih sangat jarang ada sekolah umum yang sekaligus menyediakan fasilitas pesantren seperti sekarang. Kalaupun ada, biayanya sangat besar. Padahal, waktu itu saya bisa saja sekolah sambil nyantri dengan sistem pulang-pergi, atau istilahnya menjadi "santri kalong". Namun, keputusan sudah diambil, dan saya menjalaninya dengan senang hati.

Waktu pun berlalu. Tiba-tiba, kerinduan untuk menjadi seorang guru tumbuh kuat di dalam hati. Namun, saya tersadar dengan sebuah realita pahit: saya tidak memiliki ijazah pendidikan formal yang mumpuni. Rasanya mustahil bagi saya untuk bisa mengajar di sekolah umum.

Hingga suatu hari, paman saya menawarkan kesempatan untuk menjadi pembimbing di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) miliknya. Saya menerima tawaran itu dengan penuh rasa syukur. Mungkin, inilah cara Allah membuka jalan bagi saya untuk menapakkan kaki di dunia pendidikan.

Sejak memutuskan masuk ke dunia ini, meskipun awalnya hanya sebagai guru bantu di TPA dengan modal ijazah MTs, saya bertekad untuk terus belajar. Saya berusaha menyesuaikan diri dengan segala kemampuan yang ada. Tak berselang lama, paman saya kembali menawarkan kesempatan untuk menjadi guru bantu di RA/TK. Jika mengibaratkan diri seperti radio, saat itu saya sedang berada dalam proses fine-tuning—mencari frekuensi dan passion hidup saya. Dan di sinilah, di dunia pendidikan anak-anak inilah, saya menemukannya.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa dengan metode mengajar. Kepala sekolah dan rekan-rekan guru tanpa lelah terus membimbing saya, mengajak saya mengikuti berbagai workshop dan pelatihan. Salah satu kebahagiaan terbesar saya adalah ketika menemukan pelatihan guru yang gratis. Lewat ruang-ruang itulah saya bisa menyerap ilmu baru untuk diterapkan di sekolah. Bagi saya, itu adalah pengalaman yang sangat luar biasa.

Namun, jujur, ada kalanya rasa minder itu menyergap. Saat harus berdampingan dengan guru-guru lain yang sudah kompeten, saya sering memilih duduk di barisan paling belakang. Saya merasa tahu diri dengan keterbatasan yang ada; merasa belum pantas bersanding dengan mereka yang sudah menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Tetapi, setiap kali rasa minder itu datang, ia langsung sirna oleh tekad yang membara di dalam dada. Saya ingin menjadi guru yang profesional, berkarakter, berdedikasi tinggi, terus berkarya, dan tentunya memberi manfaat.

Sedikit demi sedikit, saya mulai mengubah paradigma berpikir saya: "Terlambat bukan berarti tidak sampai."

Hingga pada usia 28 tahun, saya memberanikan diri mengikuti program PKBM setara SMA. Ketika dinyatakan lulus, rasanya luar biasa. Itu adalah pencapaian pertama saya di saat dunia terasa menutup kemungkinan. Qadarullah, saya bisa melewati tahapan itu. Dari sana, saya terus membenahi diri. Saya harus menjadi lebih baik—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk lingkungan, masyarakat, dan lembaga yang telah memberi saya ruang untuk berkembang. Sebab, sebelum mendidik orang lain, kita harus pandai mendidik diri sendiri, terutama dalam menjaga akhlakul karimah yang menjadi fondasi paling krusial dalam kehidupan.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, tantangan saya tidak mudah. Saya harus pintar membagi waktu antara kewajiban di sekolah dan kewajiban utama sebagai seorang istri sekaligus ibu. Dukungan, rida, dan izin dari suami adalah anugerah yang sangat saya syukuri. Suami saya selalu memberikan dukungan penuh pada setiap keputusan yang saya ambil.

"Selama bisa menyeimbangkan skala prioritas, tanpa mengesampingkan kewajiban utama, tentu saya izinkan," tutur suami saya waktu itu.

Kalimat itulah yang menumbuhkan rasa percaya diri saya. Saya mulai yakin bahwa saya bisa memberikan yang terbaik asalkan ada kemauan untuk berubah. Saya teringat sebuah ayat dalam Al-Qur'an bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Ayat ini menjadi pemantik utama bagi saya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, demi menyelaraskan potensi dan kompetensi saya sebagai pendidik.

Namun, benturan realita kembali datang. Mempertimbangkan waktu, keluarga, dan kondisi finansial yang belum stabil, harapan itu perlahan meredup.

"Ya sudahlah, cukup lulusan SMA saja. Toh, saya hanya guru bantu," gumam saya pasrah.

Selama beberapa tahun, saya mencoba mengubur dalam-dalam impian itu. Namun, Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi di dalam hati hamba-Nya. Lewat sebuah workshop yang saya ikuti—yang kebetulan panitianya adalah para mahasiswa dari Kampus Al-Azami—hati saya kembali bergetar. Saya merasa terpanggil untuk mewujudkan mimpi yang sempat terkubur. Kebetulan, kampus tersebut sedang membuka penerimaan mahasiswa baru.

Saya memberanikan diri untuk mendaftar. Saya melangkah dengan keyakinan penuh, karena saya tahu saya memiliki Allah Yang Maha Kaya. Saya memilih Program Studi PIAUD (Pendidikan Islam Anak Usia Dini), bidang yang linier dengan tempat saya mengabdi.

Sejak kuliah, pandangan saya terbuka lebar. Saya menyadari bahwa mendidik itu tidak bisa mendadak. Dibutuhkan ilmu yang mumpuni untuk memahami tumbuh kembang anak, terlebih anak usia dini yang membutuhkan pengawasan ketat di setiap fasenya. Adalah kebohongan besar jika kita mendidik anak di usia emas (golden age) hanya bermodalkan jurus "katanya" atau sekadar mengalir saja. Semua ada ilmunya.

Seketika, saya tersadar akan banyaknya kekeliruan yang tidak sengaja saya lakukan selama ini, baik kepada anak didik di sekolah maupun kepada anak kandung saya sendiri. Kesadaran itulah yang memantapkan langkah saya untuk menuntaskan perkuliahan ini sampai selesai. Seperti terhipnotis, selama kuliah, "sakelar ON" di dalam diri saya terus menyala.

Dan lagi-lagi, Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah memberikan kemudahan hingga perkuliahan itu selesai. Tanpa terasa, di tahun 2023, gelar S.Pd resmi bersanding di belakang nama saya. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa bagi saya yang sudah tidak muda lagi. Saya bangga pada diri sendiri karena mampu melewati segala badai hambatan dan rintangan selama kuliah.

Kini saya paham, hal terpenting dari kuliah bukanlah proses saat kita duduk di bangku kelas, melainkan bagaimana aplikasi dari ilmu yang telah kita dapatkan agar bisa bermanfaat bagi sekolah dan masyarakat. Mengutip ucapan Jay Sidhu: "If you are aware of your weaknesses and are constantly learning, your potential is virtually limitless. You can build something that will be a legacy." (Jika Anda sadar akan kekurangan Anda dan terus belajar, potensi Anda akan berkembang tanpa batas, dan dari sanalah Anda akan membangun sebuah warisan kejayaan).

Dalam keheningan, saya menyisipkan doa terdalam di hadapan-Nya: "Rabb-ku, ya Allah... jadikanlah ilmu dan umurku berkah, agar sisa usia ini dapat aku dedikasikan sepenuhnya untuk dunia pendidikan. Dan izinkanlah hamba-Mu ini kelak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, agar ilmu yang saya miliki tidak hanya bermanfaat bagi anak usia dini, tetapi juga bisa merangkul dan bermanfaat bagi para pendidik anak usia dini lainnya."

Aamiin yaa Robbal 'alamiin.